Saidy Poe, Wartawan Rendah Hati dengan 12 Buku Puisi dan Segudang Karya

0
9
Oplus_0

KABAREWISATA.COM — Tanpa banyak bicara, apalagi suka mengklaim diri sebagai seniman atau budayawan, Saidy Poe justru membuktikan dirinya sebagai sastrawan dan seniman sejati.

Dengan langkah senyap, ia telah melahirkan 12 buku puisi. Sebuah capaian yang jauh dari kata sederhana di dunia sastra Indonesia.

Kerendahan hati menjadi ciri khas Saidy Poe. Saat berbincang dengan awak media melalui sambungan telepon, ia memilih merendah dan menghindari pujian.

“Aku tuh isone nggawe puisi, ngamen, nggawe lagu, sama desain proposal dan karya cetak lainnya. Apa yang mau dibanggakan,” ujar Saidy singkat, Minggu (22/2/2026).

Buku puisi terbarunya yang ke-12 berjudul “Puisiku Isinya Bernyanyi”, dengan subjudul Serupa, Dua Sisi di Satu Ruang, dijadwalkan rilis pada 21 April 2026.

Menariknya, peluncuran buku tersebut akan berbarengan dengan peringatan ulang tahun ke-12 Forum Wartawan Hiburan (FORWAN) Indonesia, yang akan menggelar kegiatan bakti sosial #FORWANPeduli, berbagi kepada 1.200 anak yatim piatu, dhuafa, dan anak terlantar di 12 panti asuhan wilayah Jabodetabek.

“Saya numpang rilis buku puisi ke-12 bareng FORWAN, organisasi yang menaungi saya sebagai wartawan,” kelakarnya.

Kebetulan, kata Saidy Poe, FORWAN juga menggelar bakti sosial dalam rangka ulang tahunnya yang ke-12.

Ketua Umum FORWAN Indonesia, Sutrisno Buyil, mengaku terkejut dengan sosok Saidy Poe yang selama ini dikenal sederhana dan kerap dimintai bantuan membuat desain proposal kegiatan FORWAN. “Ternyata adalah sastrawan produktif dengan karya yang luar biasa,” paparnya.

Menurutnya, Saidy itu orangnya humble, nggak nyeniman seperti kebanyakan sastrawan. “Dia seniman sesungguhnya,” tandasnya.

Tidak berkoar-koar mengaku seniman dan budayawan, tapi karyanya nyata. Menerbitkan 12 buku puisi bukan perkara gampang. “Dan mas Saidy sudah membuktikannya,” ujar Buyil dengan nada kagum, sembari mengaku sering ‘menyuruh-nyuruh’ Saidy membuat proposal kegiatan.

Kekaguman Buyil bertambah ketika mengetahui Saidy Poe juga seorang pencipta lagu. Bahkan, lagu terbarunya berjudul “Anugerah Kartini” lahir atas permintaan langsung Buyil untuk FORWAN.

“Kalau saya tanya kenapa proposal telat, alasannya selalu lagi ngamen buat dapur dan biaya sekolah anaknya. Dari situ saya iseng ngetes, saya minta Mas Saidy bikin hymne Anugerah Kartini Musik dan Film milik FORWAN,” papar Buyil.

Usai menerima permintaan tersebut, Saidy Poe sempat ‘menghilang’ hampir lebih dari sebulan. Namun kejutan datang tanpa banyak janji.

“Suatu pagi saya bangun, buka handphone, tiba-tiba ada kiriman syair Anugerah Kartini lengkap dengan musiknya. Surprise. Mas Saidy itu bukan tipe banyak janji, tapi selalu memberikan bukti. Orangnya sangat komitmen dengan apa yang ia janjikan,” pungkas Buyil.

Dengan karya sastra, musik dan dedikasi senyapnya, Saidy Poe membuktikan bahwa seniman sejati tidak perlu berisik. Cukup berkarya dan sejarah yang akan berbicara.

Jauh sebelum dikenal sebagai penyair produktif, pada 2004 Saidy Poë telah ikut mendirikan sebuah gerakan budaya bernama Budaya Qta yang digagas bersama Brigjen Pol (Purn) Said Junus RM, SH, MBA.

Budaya Qta hadir dengan fokus utama menumbuhkembangkan jiwa seni, kreativitas dan karakter generasi muda bangsa.

Tonggak penting perjalanan Saidy Poë terjadi pada 2014. Melalui Budaya Qta, ia berhasil memprakarsai sebuah rekor dunia bertajuk Buku Kumpulan Puisi Tertebal di Dunia. Buku setebal 99 sentimeter itu ditulis oleh 16.180 siswa se-Kota Bogor.

Hingga hari ini, rekor tersebut belum terpecahkan dan menjadi titik balik yang menuntunnya menekuni dunia kepenyairan secara serius.

Pengalaman memprakarsai sejumlah rekor dunia menuntutnya menguasai berbagai kemampuan lintas bidang. Mulai dari desain grafis, video editing, penciptaan lagu, pembuatan website, hingga membangun kerja tim yang solid dalam setiap perhelatan budaya dan seni.

Perjumpaannya dengan penyair senior Uda Iwan Soekri Munaf saat mempuisikan lukisan karya para pelukis Kota Bogor menjadi babak penting lainnya.

Dari pertemuan itulah, Saidy Poë “dijebloskan” ke dunia sastra lebih dalam dengan amanah sebagai admin grup WhatsApp Penyair Indonesia. Sejak saat itu, ia mengikrarkan disiplin berkarya dengan prinsip Satu Hari Satu Karya.

Disiplin tersebut membuahkan hasil nyata. Saidy Poë dengan mudah menerbitkan buku-buku kumpulan puisinya sendiri, bahkan memilih mendirikan penerbit buku digital independen bernama Itu Disain.

Sejak 2020, ia dikenal luas di masyarakat sastra dengan nama pena Saidy Poe, yang secara harfiah berarti “tuan penyair”. Hingga kini lebih dari seribu judul puisi telah ia hasilkan dan terangkum dalam 12 buku kumpulan puisi, di antaranya Lukisan-Lukisan Berpuisi, e Penyair, THELS, Wagita, dan Ruang Terbuang.

Sejumlah karyanya juga terpublikasi secara rutin di media siber Trenz Indonesia dan Sumatera Daily. Ia bahkan dipercaya mengelola program Poemsdaily, sebuah ruang apresiasi yang memberi peluang bagi penyair muda berbakat untuk tampil di media siber di luar media sosial.

Tak berhenti di puisi, Saidy Poë terus berinovasi dalam penciptaan lagu dan pengembangan musikalisasi puisi Nusantara.

Uniknya, semangat itu ia rawat dengan turun langsung ke jalan, mengamen. Aktivitas tersebut bukan sekadar mencari nafkah, melainkan media menghafal lagu-lagu ciptaannya sekaligus mengasah kembali mental jalanan.

Dari aktivitasnya itu ia mencatatkan dua rekor dunia: mengamen terlama selama 120 jam dan 179 jam non-stop, yang hingga kini belum terpecahkan.

Saidy Poë, lahir bertepatan dengan hari jadi kota kelahirannya, Pasuruan, Jawa Timur, pada 8 Februari 1971. Ia menempuh pendidikan tinggi di Malang pada periode 1990–2000 dan sempat menjadi asisten dosen di bidang matematika ekonomi, ekonomi makro, komputer dan manajemen proyek mikro.

Dunia organisasi juga lekat dalam perjalanan hidupnya, baik intra maupun ekstra kampus, di antaranya HMI, IMM dan FDME (Forum Diskusi Mahasiswa Ekonomi). Ia pun pernah berkecimpung di dunia marketing serta aktif di sejumlah LSM yang turut ia dirikan.

Memasuki tahun 2026, Saidy Poë kembali menyiapkan langkah besar. Ia bersiap memprakarsai penciptaan buku puisi daerah bertajuk Bhinneka Tunggal Ika, yang diharapkan menjadi hadiah terindah bagi bangsa Indonesia pada peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 2026.

Dari desain sunyi hingga panggung sastra nasional, Saidy Poë terus berjalan dengan keyakinan bahwa seni adalah jalan pengabdian — dan puisi adalah napas hidupnya. (Buyil/Fan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here