Mahasiswa UAD Ikuti Program Mobilitas Internasional ICT dari Kemendikbudristek

0
27

KABAREWISATA.COM – Enam mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta — terdiri dari Prodi Sastra Inggris (2), Prodi Pendidikan Bahasa Inggris S1 (2), Prodi Bahasa dan Sastra Arab (2) — yang mendapat beasiswa ICT (International Credit Transfer) dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) secara resmi dilepas Rusydi Umar, ST, MT, Ph.D, Wakil Rektor UAD Bidang Akademik, di Ruang Sidang Utama Kampus 1 Jl Kapas, Semaki, Kemantren Umbulharjo, Yogyakarta, Sabtu (10/9/2022).

Dilanjutkan pembekalan akademik yang disampaikan perwakilan Prodi masing-masing, pembekalan AIK (Al Islam dan Kemuhammadiyahan) disampaikan Drs H Anhar Ansyory, MSi, PhD (Kepala LPSI UAD), pembekalan psikologi disampaikan Rudi Yuniawati, M.Psi, pembekalan administrasi dan wawasan internasional oleh Ida Puspita, M.A.Res (Kepala Bidang Kerjasama Luar Negeri).

Universiti of Malaya menjadi tujuan studi Hammam Ali Althaf Shah dan Zumrotul Imanda Wachid Hakim mahasiswa Prodi Bahasa dan Sastra Arab.

Universiti Teknologi MARA Malaysia menjadi tempat belajar Desti Nurwahidah dan Nabila Azzahra, mahasiswa Prodi Sastra Inggris, serta Umair dan Enggar Bagas Dewantara mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris S1.

Di depan Kepala Kantor Kerjasama dan Urusan Internasional Dwi Santoso, Ph.D, Kepala Bidang Kerjasama Luar Negeri Ida Puspita, M.A.Res, Dekan dan Kepala Prodi terkait, Wakil Rektor UAD Bidang Akademik mengatakan bahwa mahasiswa yang mendapatkan beasiswa ICT ini adalah mahasiswa terpilih.

Bagi Rusydi, ICT ini selalu diperoleh UAD setiap tahun. “Hanya saja ICT tahun lalu dilaksanakan secara online,” ungkap Rusydi Umar.

Dikarenakan mahasiswa ICT ini juga menjadi duta UAD, kata Rusydi, maka harus menjaga nilai-nilai yang ada di UAD, yaitu integritas moral dan intelektual.

“Karena UAD adalah bagian dari Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah, maka mahasiswa juga harus menjaga nilai-nilai Al Islam dan Kemuhammadiyahan,” papar Rusydi Umar.

Dalam melaksanakan beasiswa itu mahasiswa harus siap mental. “Karena akan ada culture shock dan perbedaan yang sangat ekstrem di nilai-nilai dan norma masyarakat,” kata Rusydi.

Dikatakan Rusydi, mahasiswa akan dibekali mengenai akademik, psikologi dan AIK. “Agar bisa mengikuti semua kegiatan di luar negeri dengan baik,” tandasnya.

Pada kesempatan itu, Rusydi berharap kepada mahasiswa penerima beasiswa ICT untuk mewujudkan rasa syukurnya dengan mengikuti program sebaik-baiknya. “Dan pulang dengan membawa nilai yang nanti akan direkognisi di UAD,” ujarnya.

Untuk kali pertama setelah pandemi Covid-19, perkuliahan untuk beasiswa program ICT akan dilakukan secara luring selama satu semester. Belajar di kampus sesuai bidang studi masing-masing sekaligus belajar budaya di masyarakat negara tujuan.

Dijelaskan Ida Puspita selaku Koordinator ICT, berturut-turut setiap tahun proposal ICT yang dikirimkan ke Dikti dapat lolos seleksi. Terlebih, pada tahun ini dana APBN untuk program ini menurun.

“Sehingga yang diterima jauh lebih sedikit dibanding tahun sebelumnya,” kata Ida Puspita, Kepala Bidang Kerjasama Luar Negeri.

Meski tingkat persaingan semakin ketat — mengingat jumlah pendaftar meningkat tiga kali lipat dibanding tahun 2021 — kepercayaan Kemendikbudristek kepada UAD juga tinggi untuk mengirimkan mahasiwa terbaiknya dalam program ICT. Ke depan, UAD dapat terus lolos dalam seleksi program ICT. (Fan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here