Lebaran dan Tradisi Ketupat

0
23

KABAREWISATA.COM – Seperti tahun-tahun sebelumnya, setiap jelang lebaran banyak penjual tiban selongsong ketupat di Pasar Kolombo.

Selain warga Pakem, mereka berasal dari Bantul dan Boyolali. Bahkan ada rombongan dari Manisrenggo, Klaten, Jawa Tengah, yang datang sejak dinihari dan menginap di Pasar Kolombo.

Pengrajin atau pedagang tiban selongsong ketupat itu meluber dalam menggelar dagangannya hingga ke pinggir pinggir jalan, Kamis (20/4/2023).

Bahkan hal tersebut menjadi pemandangan khas tersendiri. Begitupun para pembeli yang ramai mencari kebutuhan untuk persiapan lebaran seperti daging, bumbu dan buah-buahan.

Selongsong ketupat yang dijual 1 iket berisi 10, harganya bervariasi antara Rp 10 ribu hingga Rp 15 ribu. Biasanya, jika sudah siang, harga bisa turun separonya. Di samping jual selongsong kupat, beberapa pedagang juga menjual kupat siap saji.

Petugas keamanan Pasar Kolombo memberikan imbauan dan peringatan kepada pengunjung pasar agar hati-hati dalam menjaga tas atau dompetnya agar terhindar dari copet.

Dalam filosofi Jawa, ketupat memiliki makna khusus. Ketupat atau kupat merupakan kependekan dari ngaku lepat dan laku papat.

Ngaku lepat artinya mengakui kesalahan. Sedangkan laku papat artinya empat tindakan L, yaitu : lebaran, luberan, leburan dan laburan.

Lebaran menandakan berakhirnya waktu puasa. Luberan artinya meluber atau melimpah, ajakan bersedekah untuk kaum miskin, pengeluaran zakat fitrah. Sedangkan leburan sudah habis dan lebur. Maksudnya, dosa dan kesalahan akan melebur habis karena setiap umat Islam dituntut untuk saling memaafkan satu sama lain. (Fan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here