Labuhan Merapi, Tradisi Rutin Peringati Tingalan Jumenengan Dalem

0
74
Tradisi Labuhan Merapi. (Foto: Humas Pemkab Sleman)

KABAREWISATA.COM – Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo, pada 11 Februari 2024 lalu menerima ubarampe Labuhan Merapi dari utusan Ngarsa Dalem Sri Sultan Hamengkubuwono X.

Kemudian, ubarampe itu diserahkan kepada jurukunci Merapi Wedono Surakso Hargo Asihono di kantor Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman.

Labuhan Merapi adalah tradisi rutin tahunan dalam rangka memperingati Tingalan Jumenengan Dalem atau ulang tahun kenaikan tahta Sri Sultan Hamengkubuwono X sebagai Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat

Adapun ubarampe yang diserahterimakan itu terdiri dari sinjang Kawung Kemplang, semekan Gadung, semekan Gadung Mlati, kampuh Paleng, desthar Daramuluk, desthar Udaraga, arta Tindih dan lainnya.

Setelah prosesi serah terima, ubarampe tersebut dibawa ke petilasan Mbah Maridjan yang berada di Kinahrejo, untuk selanjutnya dibawa ke Bangsal Sri Manganti di Gunung Merapi untuk prosesi labuhan pada 12 Februari 2024.

Kustini menyambut baik pelaksanaan tradisi Labuhan Merapi ini. “Tak hanya sekadar tradisi, Labuhan Merapi menjadi bentuk syukur manusia kepada Sang Pencipta Tuhan Yang Maha Esa atas berkah dan karunia yang telah diberikan,” kata Kustini.

Melalui tradisi Labuhan Merapi ini menunjukkan sikap gotong royong, guyub rukun, golong gilig dan wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus memperingati tingalan jumenengan Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Kustini merasa bangga dengan antusiasme masyarakat Sleman dalam menyambut dan berpartisipasi dalam upacara adat Labuhan Merapi ini.

Menurutnya, Labuhan Merapi menjadi pembuktian bahwa upacara adat Labuhan Merapi masih sangat mengakar pada masyarakat. “Dan relevan untuk dilakukan sampai saat ini,” tandasnya.

Karena memiliki filosofi yang bijaksana dan mengandung nilai luhur serta mencerminkan masyarakat Yogyakarta yang agamis, humanis dan berbudaya. (Fan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here