Kirab Suran Mbah Demang Banyuraden Gamping Sleman

0
20

KABAREWISATA.COM – Setelah dua tahun vakum karena adanya pandemi Covid-19, kini masyarakat Banyuraden, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, kembali menggelar tradisi budaya tahunan Suran Mbah Demang untuk mengenang perjalanan Demang Cokrodikromo, Jum’at (5/8/2022) malam.

Untuk kelancaran rute dan keamanan jalannya kirab, pengamanan melibatkan Polres Sleman, Polsek Gamping, Polsek Rayon IV, Koramil 17 Gamping, Satpol PP, Linmas dan Komunitas Masyarakat Peduli Kamtibmas: TRC Gamping, Banser, Jaga Warga, Gebrak, Stupa.

Tradisi kirab Mbah Demang di Kalurahan Banyuraden, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, diadakan setiap bulan Suro (pananggalan Jawa), yaitu digelar pada tanggal 7 Suro.

Ini tak lepas dari sejarah perjalanan Ki Demang Cokrodikromo, yang ketika mudanya bernama Asrah. Pemangku adat, Ki Murdiyanto, menuturkan, sejarah Desa Banyuraden berawal pada sebuah cerita dari sosok bernama Mbah Demang Dawangan.

Suatu saat, Mbah Demang menyuruh seorang remaja bernama Asrah bertapa selama sebulan penuh. Itu sebagai bentuk laku prihatin bagi Asrah untuk menghilangkan sifat nakalnya. “Nah, dalam laku prihatin itu, Asrah bertemu dengan figur-figur bijak yang mengajarinya tentang kesejatian hidup,” ungkap Murdiyanto.

Asrah juga diberi kitab ilmu. Usai bertapa, seiring berjalannya waktu, Asrah tumbuh menjelma menjadi seorang yang sakti. Dia lantas dipercaya memberantas kejahatan dan diangkat menjadi mandor di perkebunan tebu.

Selanjutnya naik pangkat menjadi demang pabrik gula di daerah Demak Ijo, Gamping. Dari situ Asrah berganti nama menjadi Demang Cokrodikromo. “Sampai sekarang diperingati dengan kirab budaya suran Mbah Demang,” jelas Murdiyanto.

Pada kesempatan itu kirab melibatkan perwakilan 11 regu prajurit Bregada se-Kapanewon Gamping. Turut dikirab aneka gunungan hasil bumi dan pengiring komunitas kesenian masyarakat berjumlah 3 regu.

Urutan Kirab Suran Mbah Demang 2022 ini diawali Bregodo Kasepuhan dengan start mulai dari Sanggar Widya Pramana Cokrowijayan, Bregodo Wirorejo Biru, Bregodo Kademangan Modinan, Bregodo Sonsong Mangkubumi Mejing.

Sementara Bregodo pengiring dan kesenian dengan start mulai dari halaman Kantor Kalurahan Banyuraden Gamping, yaitu Bregodo Widya Pramana, Bregodo Pesanggrahan, Bregodo Muspika Kapanewon Gamping, perangkat Kalurahan Banyuraden dengan mengendarai kereta kuda, Bregodo Ranu Wiro Patuk, andong pamong kalurahan, Bregodo Wira Ndagha Kaliabu Lor, Bergodo Puspo Arum Baturan, Bregodo Putri Larasati Guyangan, Bregodo Rukun Krida Mudha Guyangan, Bregodo Anak Kramatan dan komunitas kesenian masyarakat Hadroh Sukunan, Bregodo Turangga Sumber Arum, Ogoh-ogoh Modinan dengan penutup Ogoh-ogoh Kaliabu.

Sebelum melaksanakan upacara tradisonal tersebut terlebih dahulu dilaksanakan kirab dengan rute yang dilalui, yaitu dari titik pemberangkatan dari halaman Kalurahan Banyuraden, kemudian bertemu di Sanggar Widya Pramana Padepokan Eyang Ki Juru Permono Cokriwijayan.

Menuju ke timur simpang tiga Patran, ke utara Jl Titi Bumi, perempatan Patran/Jl Godean ke barat, berhenti di depan pendopo Mbah Demang Jl Godean KM. 5 Dusun Modinan, Banyuraden, untuk melakukan prosesi acara. Kemudian dilanjut ke barat, perempatan Demakijo ke arah selatan dan Mako Bekang ke timur finish.

Dalam acara pemberangkatan dari halaman Kantor Kalurahan Banyuraden Gamping Sleman dihadiri Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman Edi Winaryo, Panewu Gamping Drs Sardjono, M.Si, Kapolsek Gamping Kompol Bartholomeus Muryanto, Danramil Gamping Mayor Inf Jalu Susilarjo, S.Pd, Kepala Desa Banyuraden Sudarisman, ST, tokoh masyarakat dan tokoh budaya. Peserta kirab lebih kurang 600 orang dan warga masyarakat lebih kurang 7000 orang.

Dalam kirab yang diikuti 600 orang peserta dan disaksikan ribuan orang masyarakat, juga dilaksanakan kirab pusaka Kyai Blencong, bende, tombak dan kitab Ambeyo serta foto Mbah Demang Cokrodikromo dan foto Eyang Ki Juru Permono Patran.

Selain pusaka dan kitab serta foto, dalam kirab tersebut juga diarak berbagai uba rampe seperti kendi ijo besar, air suci panguripan dan gunungan hasil bumi.

Uba rampe tersebut diarak oleh barisan cucuk lampah, sesepuh trah, anak-cucu Kademangan, bregodo prajurit pembawa pusaka, perangkat desa, ogoh-ogoh dan paguyuban kesenian di kalurahan Banyuraden.

Sesampainya di depan Pendopo Mbah Demang dilakukan pembacaan riwayat hidup Mbah Demang. Setelah diserahkan uba rampe yang berupa gunungan hasil bumi ataupun sayur-mayur, kemudian diperebutkan oleh warga masyarakat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here