
KABAREWISATA.COM – Upaya Yogyakarta menata ulang arah pembangunan pariwisata kembali menguat melalui forum Tourism First Space: Jagongan Wisata Jogja yang digelar di Hotel Royal Malioboro, Selasa (20/1/2026). Forum ini menjadi ruang temu pelaku usaha, akademisi, pemerintah daerah, dan media untuk membaca ulang masa depan pariwisata Yogyakarta di tengah pergeseran tren wisata global.
Pakar pembangunan berkelanjutan Universitas Trisakti, Dr. M. Windrawan Inantha (Dr. Win), menegaskan bahwa peralihan dari pariwisata massal menuju pariwisata berkualitas merupakan keniscayaan. Menurutnya, keberlanjutan kini menjadi prasyarat utama dalam persaingan destinasi dunia.
“Di banyak negara, wisatawan dan tour operator besar sudah menuntut kepastian bagaimana destinasi mengelola dampak sosial, budaya, dan lingkungan. Tanpa itu, destinasi akan tertinggal,” ujar Dr. Win.
Ia menambahkan, kekayaan alam dan budaya saja tidak lagi cukup. Destinasi yang mampu menunjukkan tata kelola berkelanjutan secara kredibel justru akan memperoleh kepercayaan pasar global. Kerangka global seperti Global Sustainable Tourism Council (GSTC), lanjutnya, berfungsi sebagai “bahasa bersama” agar praktik keberlanjutan dapat dikenali lintas negara.
“Standar global ini bukan untuk menyeragamkan Yogyakarta, tetapi untuk memastikan nilai-nilai lokal dikelola dengan cara yang dapat dipercaya secara internasional,” jelasnya.
Forum ini diinisiasi pemerhati pariwisata dan ekonomi kreatif DIY, Ir. Arif Effendi, Itock Van Diera, dan Agung Wicaksono. Arif Effendi menilai dialog semacam ini penting untuk menjaga konsistensi arah kebijakan pariwisata daerah.
“Sejak 2022 kami mendorong branding Tourism First. Namun branding tidak akan bermakna tanpa kebijakan dan investasi yang berkelanjutan. Kami ingin pariwisata DIY tumbuh, tetapi tetap berintegritas,” tegasnya.
Ia menekankan, pariwisata Yogyakarta tidak semata diukur dari capaian ekonomi jangka pendek.
“Tourism First kami maknai sebagai komitmen bersama: finest dalam kualitas, integrity dalam tata kelola, responsible terhadap dampak, sincerity dalam pelayanan, dan togetherness dalam membangun,” ujarnya.
Kepala Dinas Pariwisata DIY Imam Pratanadi menyambut positif forum tersebut. Menurutnya, tantangan pemerintah daerah adalah menghadirkan pariwisata yang tidak hanya ramai, tetapi juga memberi nilai tambah nyata bagi daerah dan masyarakat.
“Kami ingin menarik wisatawan berkualitas, yang tinggal lebih lama, berbelanja di lokal, serta menghargai budaya dan lingkungan,” katanya.
Imam juga mengajak masyarakat berpartisipasi aktif memberikan masukan terhadap Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah (RIPPARDA) yang segera diluncurkan sebagai pijakan strategis pembangunan pariwisata DIY.
Melalui Jagongan Wisata Jogja, Yogyakarta menegaskan langkah untuk tidak sekadar mengikuti arus pariwisata global, melainkan menempatkan keberlanjutan sebagai fondasi utama daya saing destinasi, baik di tingkat nasional maupun internasional. (*/soe)















