Jabrohim Rayakan Kebahagiaan dengan 70 Puisi

0
15

KABAREWISATA.COM – Merayakan hari bahagia, bagi Jabrohim — seorang penyair motivator — adalah bertabur pembacaan puisi. Banyak tokoh yang hadir membacakan puisi karyanya dengan gaya berbeda.

Jabrohim terbitkan 70 puisi dalam sebuah buku “Muhasabah Tujuh Puluh” yang penuh “melati” sebagai gambaran peran sang istri yang telah tiada.

Sewaktu milad ke-70 Drs H Jabrohim yang diadakan 25 Desember 2022 lalu, tidak menyurutkan semangat 70 orang yang hadir di warung Kopikuden Piyungan, Bantul.

Tamu yang hadir dibagikan buku-buku yang pernah ditulis mantan dosen UAD dan juga pengurus Lembaga Seni Budaya dan Olahraga (LSBO) Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Itu menjadi pembeda. “Penyair memang harus mendokumentasikan karyanya dalam buku atau media yang orang bisa membacanya,” kata Jabrohim, Rabu (28/12/2022).

Bagi Jabrohim, makna puisi dapat ditangkap oleh pembaca ketika penyair mengekspresikan melalui bahasa secara puitik. “Ekspresi dan interpretasi dimungkinkan terbangun jika ada keselarasan antara bahasa dan pikiran bersifar parsial,” kata Jabrohim.

Maka, ketika Drs H Sahari (Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Bantul) membaca puisi secara ekspresif pun, dinilai penuh makna yang berbeda.

Pembaca puisi lainnya adalah Mustofa W Hasyim, Elly Mahfuzh, Mahyudin Al Mudra, Prof Dr Totok, Agus Amrullah. Diiringi musikalisasi puisi oleh Edy Widyanto Hidayat, guru SMA Negeri 11 Yogyakarta, dan pemusik sastra Sigit Baskara

Mahyudin Al Mudra, Ketua Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu, mengakui keberadaan Jabrohim sebagai penyair dan pendorong agar para seniman dan sastrawan muda berani tampil dan membuka cakrawala.

Maka, ketika Jabrohim mendirikan Komunitas Sastrawan Masyarakat Poetika Indonesia (MPI) banyak tokoh sangat mendukung dan terlibat dalam berbagai diskusi tentang pentingnya karya sastra dipublikasi dan dinikmati khalayak ramai di antaranya Emha Ainun Nadjib, Ragil Suwarno P, Prof Dr Suminto A Sayuti, Ahmadun Yosi Herfanda, Teguh Ranusastra A dll. “Mereka sangat antusias membicarakan karya sastra untuk kehidupan,” kata Mahyudin.

Menurut Sigit Baskara, yang mengaransement puisi Melati, sangat tersentuh bagaimana peran Alifiah, istri Jabrohim, dalam perjalanan kepenyairan seorang dosen.

Ke manapun, kata Sigit Baskara, yang dikenal sebagai musikus Pancasila ini, almarhumah selalu mendampingi dan memotivasi proses kepenyairan seorang Jabrohim. “Terlebih saat setelah pensiun sebagai dosen, almarhumah selalu menyertai Jabrohim keliling Indonesia dalam memotivasi agar seluruh masyarakat melek terhadap karya satra dan almarhumah ikut membiayai sendiri perjalanan itu,” kata Sigit.

Malam Muhasabah Tujuh Puluh menjadi lebih bermakna sebagai semangat. Dan tidak ada kata pensiun alias berhenti berkarya ketika maestro kaligrafi internasional, Syaiful Adnan, memberi hadiah lukisan bertuliskan berlafadz bismillahirrahmanirrahim.

Kata Syaiful Adnan, sengaja dia berikan kaligrafi itu sebagai penyemangat untuk tetap hebat. “Walau sudah berusia melebihi Rasulullah Muhammad SAW. Pokoknya, bismillah,” kata Syaiful Adnan.

Tujuh puluh tahun tetap semangat berkarya walau apapun yang terjadi. Penyair Jabrohim tanpa ditemani “melati” melangkah menuju arah yang lebih abadi.

Para penyair pun memberi tepuk tangan sebagai penghormatan atas dedikasi dan semangat seorang Jabrohim. (Fan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here