Disbud Kota Yogyakarta Gelar Macapat

0
8

KABAREWISATA.COM – Macapat atau yang dikenal dengan seni sastra tembang puisi tradisional Jawa diadakan Dinas Kebudayaan (Disbud) Kota Yogyakarta.

Kegiatan yang diikuti perwakilan Kemantren se-Kota Yogyakarta merupakan agenda rutin tahunan sejak tahun 2016.

“Dalam penyelenggaraannya menggunakan Dana Keistimewaan,” kata Pelaksana Harian (Plh) Disbud Kota Yogyakarta Ratih Ekaningtyas, pada 22 Juni 2022 lalu di Gedung Phytagoras Taman Pintar.

Acara bertajuk “Mekaring Seni Macapat Ginelar ing Jagad Anyar” ini ada makna yang terdapat pada tema yang diangkat dalam gelaran Macapat kali ini. Yaitu, ajakan kepada masyarakat secara umum, khususnya di Kota Yogyakarta.

“Untuk terus menumbuhkembangkan seni macapat di zaman sekarang kepada generasi muda dan berikutnya,” ungkap Ratih Ekaningtyas.

Bagi Ratih, seni sastra tembang macapat menggambarkan perjalanan hidup manusia sejak di alam ruh, fase dilahirkan, tumbuh hingga meninggal dunia dan kembali ke alam ruh.

Melalui syair dalam tembang, nilai luhur dan pitutur, bijak disampaikan penuh makna. Tiap bait dalam tembang macapat yang memiliki nilai religius tinggi telah digunakan sebagai media penebar kebaikan oleh orang-orang bijak di masa silam.

Tembang macapat juga menjadi senandung cinta orang tua kepada anak-anak mereka agar mengerti akan arti kehidupan.

Dari kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan rasa peka dan cinta terhadap karya sastra tradisional.

Selain itu, juga mampu memberikan pembelajaran untuk menghargai sastra Jawa.

Kepala Bidang Sejarah dan Bahasa Disbud Kota Yogyakarta, Dwi Hana Cahya Sumpena, menyatakan, kegiatan gelar macapat ini akan terus dilakukan secara berkelanjutan. “Maka dari itu di tiap kemantren secara umum memiliki basis pegiat seni tembang macapat,” terangnya.

Harapannya, melalui gelar macapat ini potensi seni tembang macapat di wilayah semakin muncul. Dan ini merupakan media serta wadah untuk mengenalkan ke masyarakat lebih luas. “Karena kita tahu macapat adalah seni yang penikmatnya tersegmen,” tambahnya.

Pada gelar macapat kali ini juga menghadirkan narasumber Kanjeng Mas Tumenggung (KMT) Projosuwasono, yang membawakan tembang Gundul-Gundul Pacul.

Sebelum membawakan tembang, dijelaskan KMT Projosuwasono, tembang dolanan ini memiliki makna yang dalam dan bisa menjadi pembelajaran dalam kehidupan.

Tembang Gundul-Gundul Pacul ini sudah ada sejak zaman dulu sebelum ada mataram. Tembang ini menggambarkan orang yang sedang bertugas menjadi pemimpin namun banyak gaya. Padahal dia sedang menanggung kesejahteraan orang-orang yang sedang dia pimpin.

Maka dari itu, ketika jadi pemimpin, harus siap dan tanggungjawab atas kesejahteraan orang yang dipimpinnya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here