Booming Pameran

0
19
Pameran seni rupa di Yogyakarta merebak belakangan ini. (Dok. Fadjri Raihul)

Pameran seni rupa di Yogyakarta merebak belakangan ini, terlebih menjelang pameran tahunan Art Jog yang diselenggarakan pada 28 Juni – 1 September 2024.

Setidaknya dua puluhan galeri yang sebagian besar terdapat di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, menggelar pameran yang berlangsung pada Juni 2024 ini, untuk apa yang disebut kalangan seniman sebagai Hari Raya Seni Rupa.

Turis domestik pada pada masa liburan ini meramaikan Yogyakarta. Para pemilik galeri berharap mendapat limpahan pengunjung dan kolektor dari pengunjung pameran Art Jog 2024.

Apakah pasar seni rupa juga merebak saat pameran seni rupa merebak saat ini? “Tidak,” ujar kolektor kondang Oei Hong Djien saat pembukaan pameran di Limanjawi Art House, Borobudur, Selasa 26 Juni 2024.

Menurut OHD, panggilan akrabnya, pasar seni rupa saat ini malah ambles di tingkat paling bawah. “Kondisi perekonomian kita yang buruk saat ini membuat pasar seni rupa ambles,” ujar pemilik Museum Seni Rupa Modern dan Kontemporer di Magelang ini. “Para kolektor dan pelaku bisnis karya seni rupa berhenti membeli dan menjual karya seni rupa.”

Hal yang sama diakui pelukis Klowor Waldiyono yang sering mengikuti pameran bersama di Yogyakarta. “Hanya satu dua karya yang dibeli kolektor,” katanya.

Menurut dia, merebaknya pameran seni lukis saat ini belum berimbas dalam pasar seni rupa. “Biasa-biasa saja.”

Menurut Klowor, merebaknya pameran seni lukis saat ini karena seniman menggelar pameran dimudahkan, bahkan tanpa menggunakan jasa kurator.

Seniman cukup membayar kepada pemilik galeri untuk ikut pameran. “Asal seniman bisa bayar,” katanya. Pengunjung pameran pun wajib membayar tiket masuk untuk menyaksikan pameran, rata-rata Rp 20 ribu.

Kolektorpun sudah menghentikan pembelian karya seni lukis. “Kebanyakan koleksi mereka menumpuk,” ujar Klowor.

Adapun para kolektor baru dari Generasi Z cenderung membeli karya lukis yang mereka suka sebagai koleksi tanpa mempertimbangkan nasib lukisan itu di masa mendatang. “Saat membeli karya, mereka tidak pertimbangkan perkembangan pasar seni rupa ke depan.”

Berbeda dengan kondisi pasar seni rupa di Yogyakarta, di Magelang, khususnya di kawasan pariwisata Borobudur yang banyak didatangi turis asing, kondisi pasar seni rupa lebih stabil.

Di Limanjawi Art House misalnya, dalam dua bulan bisa laku 25 lukisan. “Pembelinya turis asing. Paling mahal satu lukisan terjual dengan harga Rp 160 juta,” ujar Umar Chusaeni, pemilik Limanjawi Art House.

Umar menjelaskan, di Borobudur ada kerjasama antara pemilik galeri dan guide turis asing. Guide membawa turis asing ke galeri. Ketika turis asing membeli karya lukis, pihak galeri memberi sekian persen keuntungan penjualan karya lukis kepada guide.

Selain itu pihak galeri menjalin komunikasi yang baik dengan turis yang membeli karya lukis. “Turis membeli karya lukis untuk dikoleksi karena mereka senang. Jadi bukan untuk dijual kembali,” kata Umar.

Hubungan antara pemilik galeri dan guide turis asing inilah yang tidak terjadi di Yogyakarta. “Guide wisata di Yogyakarta hanya membawa turis asing ke galeri batik, tidak ke galeri seni rupa.”

Padahal di Yogyakarta bertebaran galeri seni rupa yang menggelar pameran secara rutin, tapi galeri hanya dibuka saat berlangsung pameran seni rupa. Setelah pameran selesai, galeri tutup dan baru dibuka kembali saat ada pameran berikutnya.

“Mungkin faktor geleri seni rupa di Yogya buka hanya saat ada pameran pula yang membuat guide turis asing tidak membawa turis ke galeri seni rupa,” ujar Umar. ■ FADJRI RAIHUL

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here