Bekal Awal sebagai Calon Guru Profesional

0
16

KABAREWISATA.COM – Pada pagi hari ini, Kamis (30/3/2023), bertempat di SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta dilaksanakan penarikan Pendidikan Profesi Guru (PPG) Prajabatan Gelombang 2 FKIP.

Program ini terselenggara atas kemitraan antara SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta sebagai sekolah mitra dengan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta yang berlangsung selama 3 bulan.

SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta sebagai sekolah mitra UAD melalui Program Prajabatan ini, telah sukses melakukan pendampingan terbimbing, mandiri dan pengembangan untuk kegiatan desain pembelajaran, standar proses, persekolahan, manajemen sekolah dan evaluasi/assessment pendidikan kepada 6 orang mahasiswa FKIP UAD, terdiri dari 3 mahasiswa Prodi BK dan 3 mahasiawa Prodi Pendidikan Bahasa Inggris.

Dalam acara penarikan yang dihadiri Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) dari FKIP UAD, Sucipto, Ph.D, disampaikan pesan kepada semua mahasiswa yang ditarik tentang bekal yang harus disiapkan untuk menjadi guru, bahkan pemimpin bidang pendidikan.

Pertama, harus mempunyai growth mindset. Artinya, seorang pemimpin pembelajar harus mau terus belajar dan belajar, pentingnya mengembangkan keilmuwan dan menjadikan masalah yang muncul itu sebagai sebuah ilmu, di mana jika kita ber growth mindset atas persoalan yang muncul, kita mampu “ngudari” atau mengurai masalah menjadi sebuah partikel-partikel ilmu, yang akhirnya dapat menemukan solusi.

Jika ditulis dengan format PTK/Action Reseach dan PTS/School Action Reaserch, best practice, artikel/jurnal, maka akan menjadi ilmu yang manfaat.

Kedua adalah¬†responsive. Seorang guru harus mampu responsif terhadap pergerakan apapun yang terjadi di sekolah. “Termasuk perkembangan informasi yang cepat dan tanggap solusi akan persoalan yang muncul baik antarguru, orang tua, siswa, maupun masyarakat,” terang Fitri Sari Sukmawati, M.Pd selaku Kepala Sekolah SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta.

Ketiga adalah resilience. Yaitu, ketangguhan seorang guru harus teruji dengan munculnya berbagai masalah. “Tetapi selalu optimis untuk dapat mengatasinya,” kata Fitri.

Ibarat bola yang dihujamkan ke bawah, akan tetap mantul ke atas dan mampu melambung tinggi. “Ketangguhan terhadap lingkungan yang kita harap cepat bertajdid, tetapi ternyata belum mampu berubah,” papar Fitri.

Menurutnya, seorang guru paham bahwa mengubah manusia perlu ada perencanaan, proses, refleksi, evaluasi dan melakukan penilaian.

Maka, dengan berbekal growth mindset, reaponsive dan resilence, guru pasti tidak ada yang mengeluh dengan beban administrasi pembelajaran berupa silabus dan RPP (lesson plan) yang harus disiapkan guru sebelum mengajar.

“Hal ini disebabkan guru profesional sadar bahwa mengubah manusia menjadi lebih baik itu tidak akan kita dapatkan tanpa perencanaan atau RPP,” ungkap Fitri.

Jika guru sebelum mengajar tidak membuat RPP, maka jadinya akan ceramah serta menjadi sebuah formalitas menghabiskan materi. “Tanpa melihat perubahan detail siswa untuk mengalami perubahan lebih baik,” ujar Fitri Sari Sukmawati.

Selaku Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) dari FKIP UAD,  Sucipto, Ph.D menyampaikan ucapan terima kasih kepada Kepala SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta atas bimbingannya kepada mahasiswa UAD.

“Mohon maaf jika ada yang kurang berkenan dari sikap maupun ucapan dari mahasiswa,” kata Sucipto.

Dari SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta ini bisa memotivasi mahasiswa UAD bersama pendidik SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta demi kesuksesan pendidikan di Indonesia. “Khususnya bagi SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta,” tandas Sucipto. (Fan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here